June 10, 2016

Full Day Tour Besakih

[Best_Wordpress_Gallery id=”6″ gal_title=”FD Besakih”]

Kerta Gosa adalah salah satu objek wisata di Bali yang sarat akan nilai sejarah. Lokasi objek wisata ini letaknya berada ditengah-tengah pusat kota Klungkung, lokasinya berdekatan dengan Puri Agung Klungkung yang dulunya merupakan pusat pemerintahan pada jaman kerajaan dulu. Tidak ditemukannya bukti tertulis yang menyebutkan secara pasti kapan Kerta Gosa ini dibangun, akan tetapi dari Candra Sangkala (penulisan berdasarkan dauh waktu) yang terpahat pada pintu masuk utama bangunan ini yang berbunyi “Cakra-Yuyu-Paksi-Paksi yang bila diterjemahkan akan menjadi deretan angka “1-6-2-2” maka dapat disimpulkan bahwa Kerta Gosa ini dibangun pada tahun 1622 Caka atau sekitar tahun 1700 Masehi. Pada awalnya Kerta Gosa merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat mengadakan rapat kerajaan untuk membahas tentang kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Klungkung. Sesuai dengan arti dari nama “Kerta Gosa“, kerta artinya kesejahteraan atau kemakmuran dan Gosa artinya diskusi/ tempat diskusi. Akan tetapi setelah Belanda berhasil menaklukkan kerajaan Klungkung pada perang Puputan (perang sampai titik darah penghabisan) yang terjadi pada tanggal 28 April 1908 Kerta Gosa kemudian beralih fungsi menjadi tempat peradilan. Semua bentuk perkara baik perkara kerajaan ataupun perkara adat disidangkan dan diputuskan disini. Yang menarik dari bangunan Kerta Gosa ini adalah pada langit-langitnya dipenuhi oleh lukisan yang bercerita tentang hukum Karma Phala (hukum sebab akibat). Contohnya orang yang semasa hidupnya senang menyakiti orang dengan ilmu hitam maka ketika ia meninggal digambarkan arwahnya mendapat siksaan berupa direbus dalam kawah api. Disebelah barat bangunan Kerta Gosa terdapat sebuah Bale Kambang yaitu bangunan yang dibangun ditengah-tengah kolam besar yang disebut Taman Gili. Dan untuk lebih memperdalam pengetahuan kita tentang sejarah dan budaya kota Klungkung di areal Kerta Gosa telah dibangun sebuah Museum Budaya yang menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Klungkung.

Bukit Jambul merupakan salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Karangasem yang menawarkan keindahan alam dengan perpaduan antara perbukitan, persawahan, lembah dan panorama laut yakni objek wisata Bukit Jambul. Jika Anda habis menikmati objek wisata Kerta Gosa dan Museum Semarajaya di Kabupaten Klungkung dan akan melanjutkan perjalanan untuk menuju objek wisata Pura Besakih maka secara otomatis Anda akan melewati objek wisata bukit jambul.

Tempat wisata Bukit Jambul terletak di Desa Adat Pesaban Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali. Desa Adat Pesaban merupakan desa yang terletak di perbatasan antara kabupaten Karangasem dengan Kabupaten Klungkung, namum masih dalam wilayah kabupaten karangasem, sehingga jika Anda menuju objek wisata bukit Jambul maka Anda akan menjumpai logo dari Kabupaten Klungkung dan logo Kabupaten Karangasem. Untuk mengakses objek wisata bukit jambul, jika datang dari area pantai Kuta atau Bandara Ngurah Rai maka arahkan kendaraan menuju jalan By pass I Gusti Ngurah Rai untuk menuju kawasan Pantai Sanur atau pantai Matahari Terbit. Kemudian dari kawasan Sanur, arahkan kendaraan Anda ke jalan By pass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra sampai ke trafik light di perempatan Pantai Lepang belok ke kiri menuju Jalan Raya Takmung lalu menuju jalan Batu Tabih. Setelah jalan Batu Tabih arahkan kendaraan Anda menuju jalan Flamboyan hingga menemukan perempatan. Dari perempatan ini lurus menuju jalan Ngurah Rai (klungkung) hingga sampai ke lampu pengatur lalu lintas belok kiri menuju jalan raya Besakih. Ikuti Jalan besar itu maka Akan menemukan tanda perbatasan antara kabupaten Klungkung dengan kabupaten Karangasem kemudian ikuti jalan tersebut naik ke atas dan agak berbelak belok jalannya. Nanti akan menemukan plang penyambutan di Bukit Jambul. Dari objek wisata kerta gosa arahkan kendaraan ke utara sepanjang 8 km. Anda akan melalui jalan dengan kelokan dan tanjakan di tengah-tengah lembah yang dipenuhi kebun cengkeh, sehingga memberikan nuansa alami dan membuat hati damai sepanjang perjalanan. Jika Anda datang dari kawasan objek wisata Pura Besakih maka arahkan kendaraan Anda menuju pertigaan Nongan, terus lurus sehingga Anda akan menemukan sebuah belokan dengan view yang indah dan akan melihat laut yang indah pada arah selatan, itulah objek wisata Bukit Jambul. Karena lokasinya di perbatasan maka objek wisata bukit jambul dijadikan sebagai tempat persinggahan dengan hawa yang sejuk serta menyajikan pemandangan yang sangat indah dari ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Di objek wisata bukit jambul sudah tersedia area parkir luas yang berada di pingir jalan, restoran dengan berbagai menunya, dan penginapan yang nyaman bagi yang ingin menikamti suasana malam di kawasan ini.

Jika Anda sekedar istirahat untuk melepaskan lelah sejenak tanpa harus mampir ke restoran atau ke penginapan, maka cukup Anda nongkrong-nongkrong di area parkir yang berada di atas tebing dan pingir persawasan. Dari area parkir ini, Anda akan menyaksikan hamparan bukit serta lembah dengan perpaduan areal sawah yang berundak-undak, alam dengan perpohonan hijau yang asri serta berhawa sejuk sehingga sangat cocok untuk mengilangkan penat Anda selama perjalanan. Selain alam yang hujau, kita juga akan melihat pemandangan laut lepas di sebelah selatan. Di kejauhan akan tampak gugusan pulau Nusa Penida yang berada diseberang lautan. Jika pandangan kita arahkan ke sebelah Timur tampak bukit menjulang tinggi di wilayah Sidemen. Nah demikian sekilas tentang objek wisata bukit jambul. Jika Anda sempat melewati kawasan ini alangkah baiknya Anda luangkan waktu Anda sejenak untuk melepaskan lelah anda atau sekedar berfoto-foto dengan backroundnya alam yang hijau.

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Di Pura Basukian, di areal inilah pertama kalinya tempat diterimanya wahyu Tuhan oleh Hyang Rsi Markendya, cikal bakal Agama Hindu Dharma sekarang di Bali, sebagai pusatnya. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan merupakan pusat dan semua pura yang ada di komplek Pura Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat 3 arca atau candi utama simbol stana dari sifat Tuhan Tri Murti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Pelebur/Reinkarnasi. Pura Besakih masuk dalam daftar pengusulan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995.

Pura Goa Lawah dalah sebuah tempat suci bagi umat hindu yang fungsi adalah sebagai tempat pemujaan Tuhan dengan segala manifestasinya. Istilah Pura ini sama dengan istilah ‘Mesjid’ sebagai tempat pemujaan tuhan oleh umat muslim dan Istilah ‘Gereja’ sebagai tempat pemujaan tuhan oleh umat kristiani. Pura di bali sangatlah disucikan, namun masih dapat dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin melihat-lihat keindahan pura di bali.
Tujuan para wisatawan berkunjung ke sebuah pura selain untuk minikmati indahnya relief-relief yang ada di dinding-dinding pura wisatawan juga tertarik karena pura memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki di tempat-tempat lainnya. Contoh Pura yang memiliki keunikan tersendiri adalah Pura Tirta Empul Di Tampaksiring, dimana terdapat sebuah kolam dari pancuran air suci di dalam pelataran sebuah puranya. Ada juga Pura Ponjok Batu Di Tejakula, dimana terdapat sebuah karang berbentuk perahu kecil di dalam laut.
Ada juga Pura Goa Lawah di Klungkung, dimana terdapat sebuah Goa yang didalamnya dihuni oleh sekumpulan kelelawar. Kata ‘Lawah’ di bali artinya adalah kelelawar, jadi Goa Lawah berarti Goa yang dihuni oleh Kelelawar.